Petaka Harta Haram yang Menghancurkan Kehidupan
Oleh Dr Abdul Wadud Nafis, Lc., MEI
Uang hasil korupsi bukanlah rezeki yang patut disyukuri, melainkan harta yang membawa persoalan moral, sosial, dan pertanggungjawaban. Petaka terbesar dimulai ketika seseorang tidak lagi merasa bersalah karena memperoleh kekayaan dengan cara yang salah. Ketika korupsi mulai disebut “rezeki”, batas antara yang halal dan yang haram menjadi kabur.
Sesungguhnya, rezeki bukanlah pembenaran untuk mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak kita. Allah memang memberikan rezeki kepada setiap makhluk, tetapi manusia diperintahkan untuk mencarinya melalui jalan yang halal dan baik. Karena itu, kekayaan yang diperoleh melalui suap, penggelapan, manipulasi, atau penyalahgunaan amanah tidak dapat dibenarkan hanya dengan mengatakan, “Ini sudah menjadi rezeki saya.”
Di sinilah bahaya terbesar itu muncul. Korupsi pada awalnya mungkin terasa sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Namun, ketika hati mulai terbiasa menerima uang yang bukan haknya, rasa malu dapat melemah, rasa takut kepada Allah dapat berkurang, dan kesalahan dapat dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang mulai mencari berbagai alasan untuk membenarkan perbuatannya.
Harta haram juga tidak berhenti pada orang yang mengambilnya. Dampaknya dapat mengalir kepada keluarga dan lingkungan. Rumah yang dibangun dari harta haram mungkin tampak megah, kendaraan mungkin tampak mewah, dan kehidupan mungkin terlihat penuh kemudahan. Namun, kemewahan yang terlihat oleh mata tidak otomatis menunjukkan keberkahan.
Orang tua juga memiliki tanggung jawab moral terhadap pendidikan anak. Anak bukan hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika anak menyaksikan bahwa kekayaan diperoleh melalui ketidakjujuran dan justru dianggap sebagai keberhasilan, maka yang diwariskan bukan hanya harta, tetapi juga sebuah cara berpikir yang berbahaya: bahwa kekayaan lebih penting daripada kejujuran.
Korupsi pada akhirnya bukan sekadar persoalan uang. Ia adalah persoalan amanah. Ketika seseorang diberi jabatan, kewenangan, atau kepercayaan untuk mengelola sesuatu, kemudian menggunakan amanah tersebut untuk memperkaya diri, maka yang dirusak bukan hanya keuangan, tetapi juga kepercayaan manusia.
Masyarakat pun menanggung akibatnya. Dana yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pembangunan, pelayanan publik, dan kesejahteraan dapat kehilangan manfaatnya ketika disalahgunakan. Karena itu, korupsi memiliki dimensi sosial yang luas. Ada hak orang lain yang dapat ikut terampas di balik harta yang dinikmati secara pribadi.
Maka, jangan sampai seseorang tertipu oleh banyaknya harta. Banyak bukan berarti berkah. Mahal bukan berarti mulia. Kaya bukan berarti berhasil. Ukuran keberhasilan seorang manusia bukan hanya berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi bagaimana ia memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan hartanya.
Petaka terbesar bukan ketika seseorang kehilangan uang, tetapi ketika ia kehilangan rasa takut kepada Allah karena uang.
Lebih baik hidup sederhana dengan harta yang halal daripada hidup mewah dengan harta yang harus dipertanggungjawabkan karena merugikan orang lain. Lebih baik sedikit tetapi berkah daripada banyak tetapi membawa keresahan. Sebab, harta pada akhirnya akan meninggalkan kita, sedangkan pertanggungjawaban atas cara memperolehnya tetap mengikuti kita.
Jangan pernah menyebut korupsi sebagai rezeki. Rezeki adalah karunia yang dicari dengan jalan yang benar; sedangkan harta hasil korupsi adalah amanah orang lain yang dirampas dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Pada akhirnya, yang perlu ditakuti bukan sekadar kehilangan kekayaan, jabatan, atau kedudukan. Yang paling menakutkan adalah ketika hati sudah mampu menyebut yang haram sebagai halal, menyebut pengkhianatan sebagai keberhasilan, dan menyebut korupsi sebagai rezeki.
Harta boleh banyak, tetapi jangan sampai keberkahan hilang. Kekayaan boleh tinggi, tetapi jangan sampai kehormatan jatuh. Sebab, manusia tidak hanya akan ditanya tentang berapa banyak hartanya, tetapi juga dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa ia digunakan.Alternatif judul yang lebih bombastis:
