Oleh Dr Abdul Wadud Nafis, LC., MEI
Di sebuah desa kecil yang tenang, dikelilingi sawah dan pepohonan kelapa, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Faqih. Sejak kecil, ia lebih suka duduk di surau kecil membaca mushaf kecilnya ketimbang bermain layang-layang seperti anak-anak lain. Hatinya lembut, wajahnya tenang, dan tutur katanya mengalir seperti air jernih dari pegunungan.
Suatu pagi, setelah sholat Subuh berjamaah bersama ayahnya, Faqih menyampaikan keinginannya.
“Abi… aku ingin mondok. Aku ingin mencari ilmu. Aku ingin mendapatkan ridho guru, ridho Abi dan Ummi… agar kelak Allah ridho padaku. Dan jika Allah ridho, mungkin… mungkin Rasulullah pun akan tersenyum untukku di hari nanti.”
Ayahnya menatap mata anaknya. Ada haru, ada do’a yang meleleh dari kelopak matanya.
“Pergilah, Nak. Tapi ingat, mondok itu bukan hanya soal mengisi kepala, tapi membersihkan hati. Bukan hanya soal rajin, tapi soal ikhlas.”
Lalu Faqih berangkat ke pondok diantarkan oleh orang tuanya untuk ziarah pada Kyai sholeh
“Kyai, saya menitipkan anak saya dan saya mohon jadi kambing anak saya agar memiliki akhlak Yang mulia dan memiliki ilmu yang bermanfaat dan barokah” jelaskan ayah Faqih.
Kyai sholeh diam, menatap dengan penuh cinta dan kasih kepada faqih
“Semoga pagi senang dan terasa di pondok dan senang mengikuti semua aktivitas di pondok pesantren dengan ikhlas dan juga diberikan ilmu yang bermanfaat dan akhlak mulia” Kyai sholeh mendoakan Faqih.
Di pondok, Faqih hidup sederhana. Sarung, kopiah, dan baju koko yang sederhana tapi bersihkan cuti, yang dibawanya dari rumah tetap ia pakai dengan bangga. Tiap waktu sholat, ia selalu di shaf depan. Setelah jamaah, ia tak langsung kembali ke kamar, tapi duduk sejenak, berdzikir dan merenung.
Malam-malamnya diisi tahajud. Subuhnya penuh dengan bacaan Al-Qur’an. Ia mengaji tartil, perlahan, seakan-akan sedang berbicara dengan Allah. Siangnya sekolah formal, sore hingga malam belajar kitab kuning, mulai kitab yang sangat kecil, misalnya Safinah, aqidatul awam dan taklimul muta’allim.
Faqih belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh dan penuh dengan perhatian kepada penjelasan para ustad di pondok pesantren, sehingga pada akhirnya pandai membaca kitab-kitab besar dan memiliki ilmu agama yang tinggi,
Tak hanya itu. Di sela-sela waktu, Faqih dengan ikhlas menemani Kyainya—Kiai Shaleh—kemana pun beliau pergi. Kadang membawakan kitab, kadang hanya duduk diam menyimak ketika Kiai berbicara kepada warga.
“Faqih,” kata Kiai suatu hari, “melayani guru itu juga ilmu. Karena dari situ kau belajar adab. Tanpa adab, ilmu tak akan menuntunmu pada cahaya.”
Faqih mencatat kalimat itu bukan di buku, tapi di hatinya.
Tahun demi tahun berlalu. Faqih tumbuh menjadi pemuda yang bersih hati dan cerdas. Ketika ia menyelesaikan pendidikannya, Kiai Shaleh menepuk pundaknya.
“Pulanglah, Faqih. Ilmumu cukup. Kini saatnya engkau menjadi pelita di tempatmu sendiri.”
Kembali ke desanya, Faqih menemukan masyarakat yang berbeda. Masjid sepi, anak-anak sibuk dengan gawai, dan kaum muda jauh dari kitab dan shaf. Tapi ia tak mengeluh. Ia hanya tersenyum dan mulai bergerak pelan.
Faqih membuka pengajian kecil di beranda rumah. Lima anak datang. Lalu sepuluh. Lalu dua puluh. Ia bangun mushola. Ia ajari anak-anak mengaji, berdzikir, dan mencintai Rasulullah. Ia tidak marah jika ada yang malas. Ia ajak mereka main bola setelah ngaji. Ia pinjamkan kitab, ia traktir nasi bungkus.
Beberapa tahun kemudian, mushola kecil itu menjelma menjadi pondok pesantren. Masyarakat mulai kembali ke masjid. Para orang tua mulai membiasakan anak-anaknya mengaji dan bertanya kepada Faqih jika ada masalah hidup. Bukan karena Faqih paling pandai, tapi karena ia mendengar dengan hati.
Faqih tidak pernah berkhutbah keras. Tapi setiap perkataannya seperti embun. Menyejukkan, tapi menembus sampai dasar hati.
“Jika kita ingin mengubah masyarakat, jangan hanya menuding gelap. Jadilah pelita. Sekecil apa pun cahayamu, gelap akan tetap pergi.”
Kini, di usia yang mulai matang, Faqih menjadi tokoh di desanya. Tapi ia tetap seperti dulu. Bangun malam, berjamaah di masjid, memeluk anak-anak pesantren, melayani orang tua, dan menyuapi ibu yang sudah renta.
Nama pondoknya dikenal luas. Tapi Faqih tetap menjawab tamu sendiri, menyapu serambi sendiri, dan sesekali masih mencuci sarung santri yang lupa dicuci.
Dan malam-malamnya? Masih seperti dulu. Sunyi, tangis, dan harapan.
“Ya Allah… ridho-Mu lebih dari segala yang aku minta. Dan jika boleh… izinkan aku mencintai Rasul-Mu dengan seluruh hidupku.”
Di luar, bintang-bintang bersinar. Seperti hati para santri yang kini tumbuh dari pondok kecil di desa itu—pondok Faqihul Ilmi—dari seorang santri yang hanya ingin mendapatkan cinta dari Tuhannya, dan senyum dari Nabinya.
