Mutiara Alquran

Oleh Dr Abdul Wadud Nafis, LC., MEI

Lereng Gunung Semeru, di sebuah desa yang diselimuti kabut pagi dan harum bunga kopi, hiduplah seorang gadis bernama Hafizah. Namanya menjadi doa yang disematkan orang tuanya sejak ia lahir—agar kelak ia menjadi penjaga ayat-ayat suci.

Setiap subuh, ketika embun masih melekat di ujung daun, Hafizah melangkah menuju masjid Kyai desa. Suara sandal kayunya “kletak… kletak…” mengiringi azan yang mengalun dari menara.

“Assalamu’alaikum, Kyai,” ucapnya lembut, membungkuk hormat.

“Wa’alaikumussalam, Nduk Hafizah. Sudah siap hatinya untuk menerima cahaya pagi ini?” tanya Kyai sambil tersenyum, jenggotnya bergetar.

“InsyaAllah, Kyai.”

Ia duduk bersila di hadapan Alquran, bibirnya basah oleh ayat-ayat yang dilantunkan. Kadang di sore hari, Hafizah mengulang bacaannya di TPQ Al-Barokah, tempat anak-anak desa belajar iqra. Ia tak hanya mengaji, tapi juga membantu mengajarkan adik-adik kecil yang belum lancar.

Di rumah, ia menjadi penyejuk hati ayah-ibunya. Saat ibunya menjemur padi, ia ikut menebar. Saat ayahnya memperbaiki pagar bambu, ia memegang paku dan menghibur ayahnya dengan cerita lucu dari TPQ.

Pintu Pesantren

Suatu hari, ayahnya berkata, “Nduk, ilmu itu ibarat air. Kalau kau tampung di tempayan kecil, cepat habis. Mari kita alirkan engkau ke tempayan yang besar.”

Maka berangkatlah Hafizah ke Pondok Pesantren Nurul Azhar. Di sana ia belajar mengaji dengan Ustadzah Sholihah, seorang guru yang terkenal sabar namun tegas.

“Tarik nafas… tahan… keluarkan perlahan… jangan buru-buru membaca,” pesan Ustadzah Sholihah saat mengajarkan tajwid dan makhraj.

Hafizah patuh pada setiap aturan pondok. Tidak ada malam yang ia lewati tanpa mengulang hafalan. Kepada guru dan teman, ia menebar senyum, mengalah saat berbeda pendapat, dan menundukkan pandangan jika berpapasan dengan Kyai.

Taman Hafalan

Bulan berganti tahun. Satu per satu surat ia simpan di hatinya. Hingga suatu sore, di bawah pohon mangga, Ustadzah Sholihah menepuk bahunya.

“Anakku… engkau kini telah menuntaskan hafalan tiga puluh juz. Alquran kini tidak hanya ada di tanganmu, tapi di hatimu.”

Air mata Hafizah jatuh, bercampur dengan rasa syukur. Saat wisuda, ia dipanggil:

“Ustadzah Hafizah binti Ahmad…”

Bunga melati melingkar di kepalanya, dan doa orang tua mengangkasa bersama takbir yang berkumandang.

Sayap Ilmu ke Negeri Piramida

Hafizah tak berhenti. Ia kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir, mengambil jurusan tafsir. Ia berguru pada ulama-ulama besar, mengkaji makna ayat-ayat yang dulu ia baca tanpa tahu rahasia di baliknya.

Salah satu gurunya, Syaikh Abdul Mun’im, pernah berkata,
“Wahai Hafizah, menghafal Alquran itu mulia. Tapi memahami dan menghidupkannya dalam kehidupan… itu kemuliaan yang lebih tinggi.”

Hafizah menyimpan pesan itu di lubuk hatinya.

Kembali dan Mengabdi

Bertahun-tahun kemudian, ia pulang. Pertama-tama ke pondok yang membesarkannya, Nurul Azhar. Ia mengajar santri-santri dengan suara lembut, mengulang metode yang dulu Ustadzah Sholihah ajarkan.

Namun hatinya tergerak lebih jauh. Ia kembali ke rumah, mendidik masyarakat desa agar bisa membaca Alquran dengan baik. Tidak berhenti di situ, ia membimbing mereka menghafal dan memahami isinya.

Di sebuah tanah kecil dekat sawah, ia mendirikan Pondok Tahfidz Alquran Nurus Sholah. Suara lantunan ayat mengalir setiap waktu dari sana.

Mutiara yang Bersinar

Kini, Hafizah bukan hanya seorang guru, tapi cahaya bagi generasi Qurani di desanya. Masyarakat menghormatinya, anak-anak mencintainya, dan orang tua merasa damai menitipkan putra-putrinya di pondoknya.

Suatu sore, seorang santri kecil bertanya,
“Ustadzah, mengapa ustadzah selalu tersenyum setiap kali mengajar kami?”

Hafizah mengelus kepala anak itu dan menjawab,
“Karena setiap huruf Alquran yang kalian baca adalah mutiara yang kalian simpan di hati. Dan hati yang penuh mutiara… tidak punya ruang untuk kesedihan.”

Lereng Gunung Semeru terus memeluk desa itu, dan di dalamnya, Hafizah terus menjaga kilau mutiara Alquran, agar cahaya itu tak pernah padam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *