Strategi santri sukses di pondok pesantren dan di masyarakat
Oleh Dr. Abdul Wadud Nafis, LC., MEI Menjadi santri bukan sekadar menimba ilmu agama di pondok pesantren, tetapi juga tentang membentuk karakter, memperkuat keimanan, dan mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin di masyarakat. Santri adalah sosok yang dididik dengan nilai-nilai keislaman yang mendalam, diajarkan untuk hidup dengan penuh tanggung jawab, serta siap mengamalkan ilmunya demi kebaikan bersama. Menurut pengertian yang dipegang teguh di Pondok Pesantren Sidogiri, seorang santri adalahالسنتريبِشَاهِدِ حَالِهِ هُوَ مَنْ يَعْتَصِمُ بِحَبْلِ اللهِ اْلمَتِيْنِ ، وَيَتَّبِعُ سنَّةَ الرَّسُوْلِ اْلاَمِيْنِﷺ ، وَلاَ يَمِيْلُ يُمْنَةً وَلاَيُسْرَةً فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ ، هَذَا مَعْنَاهُ بِالسِّيْرَةِ وَالْحَقِيْقَةِ لاَ يُبَدَّلُ وَلاَيُغَيَّرُ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا وَاللهُ اَعْلَمُ بِنَفْسِ اْلاَمْرِ وَحَقِيْقَةِ اْلحَالِSantri berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah "Orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan mengikuti sunnah Rasul SAW serta teguh pendirian.” Ini adalah arti dengan bersandar sejarah…
